Kenalkan
Nasehat
Tulisan Terkait
Ga punya Pulsa
“Minta SMS dong…” “Wah gw gag punya pulsa…” Yang kayak gini sering kejadian kalo akhir bulan. Wajar. Tapi ada yang salah di sini. Gag punya pulsa? Kayaknya bohong deh. Gag punya berarti ga ada, lebih spesifiknya bila dipersempit maknanya berarti tidak ada sama sekali. Nah, kalau pulsa tidak ada sama sekali berarti sama dengan pulsa Rp 0,-Ditulis tanggal 15 March 2006
Jajan Sehat
Berhubung akhir-akhir ini saya sering mondar-mandir GMC, kondisi sedang kurang fit, ditambah banyak kesibukan lain, jadilah blog ini terlihat membosankan selama beberapa minggu. Namun ada sedikit yang menarik untuk diceritakan dari pengalaman sakit-sakitan ini. Saya itu tukang ngemil. Padahal dari potongan badan sama sekali tidak ada potongan tukan ngemil ?. Hehe. Tapi memang sulit lepasDitulis tanggal 10 June 2007
mediu.edu.my, e-learning Islami
mediu.edu.my adalah situs resmi dari Universitas Al-Madinah Internasional atau Medina International University sehingga disingkat menjadi MEDIU. MEDIU adalah universitas maya yang mencoba menglobalkan pembelajaran ilmu syar’i melalui internet dengan memanfaatkan e-learningDitulis tanggal 27 May 2008
Adab Bercanda
Manusia sebagai makhluk sosial, yang hidup bermasyarakat tentunya dituntut untuk bisa berinteraksi dengan manusia yang lain dengan baik. Karena tentunya manusia tidak bisa hidup sendiri, melainkan membutuhkan orang lain dalam memenuhi hajat-hajat hidupnya. Untuk bisa melahirkan seorang manusia saja, seorang ibu butuh seorang suami. Saat lahir pun akan membutuhkan bantuan dari bidan atau dokter. DanDitulis tanggal 30 August 2007
Naked, shame.
Pernah saat saya bertamu, ada anak kecil, sepertinya anaknya si tuan rumah. Yang lucu, dia ganti baju di ruang tamu. Telanjang. Biasa, namanya juga anak kecil, gak mau sedetikpun kelewat nonton film kartunnya. Ga ada rasa malu, walau ada tamu. Ada yang lebih lucu lagi, anak tetangga saya main di jalanan sambil telanjang bugil. AdalagiDitulis tanggal 29 March 2006
Angkringan

“Bu, nasinya ¾…!!”
“Minumnya es teh ya bu…”
Deket tempat kos, ada angkringan yang jadi langganan makan malam saya. Dulu waktu awal-awal di Jogja saya sempat anti-angkringan. Soalnya saya lihat kebanyakan angkringan di Jogja memakai lampu yang remang-remang, menunya nasi kucing, mejanya kotor, trus dibawahnya berserakan kertas bungkus nasi. Wah…bikin selera makan hilang saja. Lagi pula nasi kucing seharga Rp 500,- / bungkus itu tidak memenuhi standar giziku dan tidak mengenyangkan pula. Tapi angkringan yang satu ini beda. Walau tetap memakai lampu yang remang-remang –mungkin memang ciri khas angkringan-, di sini tidak menjual nasi kucing. Nasi dihidangkan dengan piring. Di sini Cuma ada 2 menu, nasi lontong dengan bumbu kacang campur teri, dan nasi biasa dengan bumbu kacang campur teri. Selain itu ada gorengan dan sate ayam yang siap menemani.
Yang agak berbeda, pelanggan disini tidak semuanya memesan 1 porsi nasi, ada yang memesan ½ porsi, ada juga yang memesan ¾ porsi. Nah loh…3/4 porsi. Waktu pertama kali mendengar ini juga, saya agak geli. Tapi rasanya cukup beralasan sih. Pasalnya, 1 porsi pun sudah cukup membuat perut menyembul kekenyangan. Dengan harga Rp 1000,- saja kita dihidangkan nasi 1 piring penuh lengkap dengan bumbu kacang campur teri. Saya pun jarang memesan 1 porsi, karena pasti slalu kekenyangan. Saya biasa memesan ½ porsi saja, es teh, ditambah sate 2 tusuk dan gorengan 4 buah, ditukar dengan uang seharga Rp 2.500,- Yang mesen ¾ porsi mungkin kurang puas dengan ½ porsi dan kekenyangan untuk 1 porsi.
Sudah terjadi semacam ‘ketergantungan’ antara saya dengan angkringan ini. Pasalnya, sehari saja angkringan ini tidak jualan, makan malam terancam. Maklum, lidah saya memang tidak mudah kompromi. Padahal deket kos-kosan banyak warung. Tapi ngga banyak yang cocok di lidah.
Walau kurang bergizi, angkringan sudah jadi favorit untuk anak-anak kos. Harganya yang cocok dikantong, porsinya yang cocok diperut, rasanya yang unik, dan suasananya yang kekeluargaan jadi daya tarik tersendiri. Bayangkan bila saya hanya makan dengan nasi ½ porsi, air putih (gratis), taambah sate 2 tusuk. Cuma dihargai Rp 1000,- . Untuk sebulan berarti Rp 1000,- x 30 = Rp 30.000,- saja anggaran untuk makan malam. Padahal kebanyakan anak kost cuma makan 2 kali sehari, sarapan dan makan malam.
Sayangnya, angkringan ini cuma buka mulai dari pukul 16.00 – 21.00 saja. Jadi ngga bisa sarapan di sini. Pagi hari mereka memang sedang menyiapkan dagangannya, terutama sate ayamnya. Tapi andaikata sarapan pagi Rp 3000,- / hari. Untuk sebulan hanya menghabiskan (Rp 3000,- x 30) + Rp Rp 30.000,- = Rp 120.000,-. Ini jatah makan sebulan loh. Kalo tinggal di Jakarta segitu ga bakal cukup buat makan sebulan. Hehe…I love Jogja.
Btw, bisa ngga ya mesen nasinya 5/6 porsi, atau 7/13 porsi atau 11/24 porsi. Hehe…pasti penjualnya bingung…
Sumber Gambar: http://www.tembi.org


hmm.. perhitungan yang rumit dan pelik. ” Saya siih orangnya perhitungan “. Mantaps dikatakannya, terbukti dengan ngitung-ngitung nasi kucing ini :D. Btw… mo ngirit lagi klo dimasakin
Komentar dari Sirius Black — 22 February 2006 @ 2:18 pm
kata mas yahya, angkringan itu asalnya dari solo.
ide orisinil berasal dari tetangganya, yang jadi asal mula angkringan yang populer sampe sekarang.
Komentar dari lita — 3 March 2006 @ 6:22 pm
ya ampun… gw jadi laper… pengen makan makanan indonesia…. :-/
Komentar dari aRdho — 10 March 2006 @ 11:11 pm
yang pada hoby ngangkring ikut aja di milisnya,aku juga ikut kok.pake nama kiplie..
Komentar dari ken — 22 April 2006 @ 4:38 pm
nasi kucing udah ada di jakarta letaknya di jl fatmawati 100meter dari itc fatmawati ke arah citos kanan jalan
selamat mencoba
thanx
angkringan nasi kucing fatmawati
Komentar dari yanni — 22 September 2006 @ 4:07 pm
Minta alamat kost mu donk. aku ada rencana Kuliah di FMIPA UGM.
Komentar dari David — 22 May 2007 @ 12:20 pm
Ada lagi nasi kucing di depan pasar mampang prapatan jakarta. Penjual orang purworejo. Sayang angkringan ini kurang begitu enak. Tahu dan tempe bacemnya aneh rasanya. Sudah begitu gerobaknya besar bgttttttt. Ga nyaman rasanya.
Komentar dari ganesha — 14 September 2007 @ 11:44 am