Pernah dengar anak 5 tahun sudah hafal 10 juz Al-Qur’an? Saya pernah. Tahukah anda, Imam Syafi’i -rahimahullah- hafal Qur’an pada saat 7 tahun? Atau pernahkah membaca berita tentang profesor yang baru berumur 20 tahun? Saya pernah.
Jangan bilang bahwa kenyataan diatas adalah bohong. Jangan kira bahwa kehebatan-kehebatan seperti itu hanya muncul 1 kali dalam 100 tahun. Jangan bilang itu mustahil. Hal itu akan menjadi mustahil jika mereka orang MALAS.
Percayalah. Sungguh tidak enak menjadi pemalas. Rugi besar. Seseorang telah mengakuinya . Di saat orang lain berlari, pemalas diam. Saat orang lain berkembang, pemalas stagnan. Saat orang lain hebat, pemalas adalah pecundang. Sungguh, masih banyak yang harus dan bisa dikerjakan di dunia ini. Lebih lagi kita tidak tahu seberapa lama lagi time remainingkita. Bisa jadi besok, nanti, atau beberapa saat lagi sudah game over. Sudah cukupkah bekal kita? Yakinlah, belum. So, bukankah seharusnya kita mencari bekal sebanyak-banyaknya? Seperti kata pepatah “Siapa cepat dia dapat”. Dan pemalas, dapat sedikit saja, atau bahkan tidak dapat. Percayalah, jangan jadi pemalas.
Bagaimana pemalas itu? Pemalas itu:
Banyak tidur
Pemalas biasanya manut saran dokter untuk tidur malam minimal 8 jam. Kalau ia shalat shubuh, setelahnya tidur lagi. Ikut kuliah di kelas tidur lagi. Habis zhuhur tidur siang. Habis ashar ga ada kerjaan, tidur lagi. Masya Allah. Andaikan sehari kita tidur 8 jam, yaitu 1/3 hari, misalnya kita diberi umur 60 tahun, berarti 20 tahun telah kita habiskan hanya untuk tidur. Bukankah waktu kita terlalu berharga untuk itu?
Gemar ‘nyuruh’
Karena malasnya, pemalas sering tidak mau mengerjakan sesuatu sendiri. Bahkan untuk keperluan pribadinya. Bahkan juga, pada hal sederhana yang tidak sulit dilakukan sendiri, misalnya mematikan lampu, mengambilkan barang, membukakan pintu, pemalas biasanya ‘nyuruh’ temannya, adiknya, atau pembantunya. Padahal Umar bin Khatab -radhiallhu’anhu’, seorang amirul mu’minin, presiden, ulama, orang terhormat, saat ia berada di atas kudanya dan pedangnya terjatuh, ia tidak ‘menyuruh’ pengawalnya, melainkan ia turun dari kudanya dan mengambilnya sendiri.
Suka menunda
“Ah besok saja”, “Ah nanti saja”. Begitulah pemalas. Ia menunda pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan, agar ia bisa punya waktu untuk bermalas-malasan, tidur, atau leha-leha yang lain. Bekerjanya setengah-setengah. Setengah dikerjakan, setengah ditunda. Ia merasa punya 100 nyawa, ia merasa masih hidup 1000 tahun lagi, ia merasa sangat yakin besok masih bisa melihat dunia, hingga ia menunda pekerjaannya.
Mengandalkan orang lain
Bila ada pekerjaan, permasalahan atau kesulitan, ia pun berkata “Ah nanti juga diselesaikan si Fulan” atau “Ah paling-paling si Fulan nanti yang mengerjakan”. Padahal ia sebenarnya bisa melakukannya. Pemalas nantinya akan menyesal bila ternyata si Fulan mendapatkan berkah dari pekerjaan yang ia lakukan.
Suka menganggap remeh
“Ah nanti saja lah ini khan gampang”. Hal yang remeh ia tunda untuk diselesaikan. Padahal kalau memang mudah, kenapa tidak segera diselesaikan saja? Biasanya si pemalas akan kelimpungan ketika hal-hal remeh yang ia tunda-tunda ternyata bertumpuk untuk segera diselesaikan.
Gemar berangan-angan
Si pemalas biasanya gemar berangan-angan tentang kemudahan-kemudahan hidup yang ia idam-idamkan. Misalnya, karena malasnya kerja, ia berangan tiba-tiba ditawari proyek besar, tiba-tiba dapat hadiah undian. Sehingga waktu-waktunya banyak dihabiskan hanya untuk angan-angan saja tanpa aksi yang nyata.
Memprioritaskan senang-senang
Mungkin kita sering dinasehati orang tua “Main boleh saja, tapi jangan mengganggu belajar ya”. Beda lagi dengan falsafahnya pemalas, “Waktu welajar jangan sampai menggangu waktu main”. Atau kadang ia beralasan “Masak belajar terus, sekali-kali senang-senang dong” namun nyatanya belajar, bekerja, yang bermanfaat cuma untuk sambilan saja, waktu-waktunya banyak dihabiskan untuk senang-senang, main-main, senda gurau, santai-santai, tidur, nongkrong, dll.
Hobi bergurau
Bercanda, nge-garing, bergurau, tidak buruk memang. Akan menjadi buruk bila berlebihan dan menjadi hobi. Bahkan Umar bin Khatab ra berkata “Banyak bercanda itu menjatuhkan wibawa dan mematikan hati”. Orang yang hobi bercanda, bila dinasehati, nasehatnya akan dibercandai, bila diingatkan, peringatannya akan dibercandai, ia tidak pernah mau serius, maka nasehat pun tak masuk ke hatinya. Hatinya mati. Pemalas, lebih suka berkumpul bersama teman-temannya kemudian bercanda-ria, ngalor-ngidul, tak bermanfaat. Dan ia pun tidak pernah betah berada dalam suasana serius, melainkan hanya sebentar saja.
Jorok
Saya mengamati bahwa hampir semua pemalas itu jorok. Malas mencuci, baju seminggu dipakai terus. Karena malas nyetrika, baju kusut pun jadi. Karena malas, dapur penuh gelas-piring kotor dengan sisa-sisa makanan yang baunya naudzubillah. Kamar berantakan seperti kapal pecah. Dasar malas…
Kira-kira apalagi ya ciri pemalas?
Salah satu dari sekian banyak amalan sunnah adalah sujud tilawah. Penamaan demikian merupakan penyandaran musabbab kepada sebab. Karena sujud tilawah dilakukan karena ada sebab yaitu tilawah, yaitu pembacaan ayat-ayat Qur’an tertentu yang disebut dengan ayat-ayat sajadah.
Salah satu dari sekian banyak amalan sunnah adalah sujud tilawah. Penamaan demikian merupakan penyandaran musabbab kepada sebab. Karena sujud tilawah dilakukan karena ada sebab yaitu tilawah, yaitu pembacaan ayat-ayat Qur’an tertentu yang disebut dengan ayat-ayat sajadah.
Yang diajarkan adalah meringankan mahar dan menyederhanakannya serta tidak melakukan persaingan, sebagai pengamalan kita kepada banyak hadits yang berkaitan dengan masalah ini, untuk mempermudah pernikahan dan untuk menjaga kesucian kehormatan muda-mudi
Berikut ini beberapa website yang bermanfaat bagi para thullabul ilmi asy syar’i: Wikipedia bahasa Arab http://ar.wikipedia.org/, Tafsir Qur’an http://quran.al-islam.com/arb/, Lajnah Da’imah Saudi Arabia http://www.alifta.com/
padahal tadi malam baru aja ngeprint tulisan
“AKU BUKAN PEMALAS ” egh disini nemu artikel ini..
Bismillah.
Assalaamu’alaikum.
Numpang nimbrung nih Mas…
Saya merasa bahwa penerbitan RH juga bertujuan untuk meminimalkan peraih predikat malas di geng Anda. Jadi, mengapa tulisan saya yang menggunakan bahasa khas seorang preman ini tidak boleh diterbitkan, sedangkan tulisan Anda yang sok lebih santun ini boleh masuk koran mana sahaja?
.
Tujuan kita sama, mengentaskan ketidakproduktivitasan umat agama ini. Visi kita mungkin sama, menjadikan agama ini elok dengan binasanya para pecundang dan pemalas tak kenal nasehat. Namun, bisakah Anda menghormati barang sedikit sahaja dari cara yang absurd ini?
.
Cara saya yang tidak mendapat predikat “dakwah” mungkin tidak bisa dijadikan ALASAN DIBREDELNYA RH. Itu menurut saya. Bukankah pengertian dari kata dakwah tidak melulu terpaku pada sebuah organisasi resmi? Bukankah seorang mantan kafir pun boleh angkat bicara demi tegaknya sebuah agama baru yang diyakininya? Bukankah setiap orang berhak mendapat pencerahan yang layak?
.
Bukankah saya juga berhak mewujudkan impian untuk berdakwah, dan tentu saja, dengan gaya dan batas kemampuan saya?
.
Btw, mohon maaf jikalau komentar ini tidak sesuai dengan topik Anda. Karena Anda tidak menyediakan semacam page agar komentar /etc atau “loebang pelampiasan” ala saya bisa dimuat.
.
Btw (lagi), kemampuan menulis saya mungkin tidak sebaik dan seindah kru, ketua, anggota geng, atau apapun nama atau gelar yang diberikan oleh organisasi Anda kepada masing-masing pengikutnya. Tapi, kita bisa lihat ada satu ciri kemalasan di dunia maya. Malas mengupdate blog, malas menulis, malas memberi pencerahan detail atas kesalahan seorang awam islam seperti saya.
Wassalaamu’alaikum.
Alhamdulillah.
pramur…dan gaya khasnya

terus mur, sikat semua penghalang!
hajar kemunafikan!
tunjukkan bahwa esensi jauh lebih penting dari pada “kertas kado”-nya
ganyang!!!
kekekekekekekekekekekeke…
duh ….
*back to work*
Numpang nimbrung nih Mas… (lagi)
@ joesatch
Gaya saya sudah khas? Beneran nih? Khas anak pejabat? Khas orang bejat? Khas bajingan?
.
@ ian
Wah, sudah berapa hari nih nggak dibales-bales?
@Wardah El Shafa
Mbok diingatkan, dinasehati, didakwahi dengan baik. Bukankah lebih indah demikian?
Ayo berantas kemalasan….
@Pramur
Soal bulletinnya, no komen dulu. Tapi kalau ada yang mau disampaikan pada organisasi itu (KMFM), coba saja nulis dibuku pesannya, tidak harus pakai bulletin khan? Jangan bilang kamu malas nulis…
@Joesatch
Bener mas. Saya juga benci kemunafikan. Karena Allah juga membencinya:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah (kerak) neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong bagi mereka.” (QS. An Nisa’: 145). Kita sama2 berdo’a semoga tidak tergolong kepada golongan orang-orang munafik.
Tapi, kalo melihat kemunafikan pada diri seseorang, yo jangan dihajar orangnya
kita sebagai muslim memang sepatutnya menjauhkan diri dari sifat malas ini, karena dalam islam kita dituntut utk selalu berusaha semaksimal mungkin apapun yang dihadapi… selepas itu, kita serahkan pada Allah swt, tawakal dan berserahdiri pada NYA..
sebagai tambahan informasi, silahkan klik links berikut:
http://orido.wordpress.com/2006/05/03/hotd-usaha-dan-amal/
http://orido.wordpress.com/2005/12/29/hotd-bekerja-dan-sedekah/
http://orido.wordpress.com/2007/01/05/hotd-susah-sabar/
semoga berguna.
saya lebih ga seneng lagi kalo yang punya predikat kayak gitu tuk bagian dari mereka yang menyandang gelar aktivis dakwah. tapi kadang saya juga ngerasa malas ding.
Postingan yang bagus.Kebetulan beberapa hari ini lagi jenuh kerja karena malas (he2,sadar).Pas banget butuh tausiyah tentang bahaya malas.
[...] Siapa Mau Disebut Pemalas? [...]
salaamun
nambahin ya :
orang pemalas itu:
selalu kena batunya karna dia sering menunda2 segala urusannya. setelah itu dia menyesalinya dan bertekad untuk tidak mengulanginya dikemudian hari.
namun tekad tinggallah tekad. hal itu terjadi lagi di kemudian hari . kemudian nyesel lagi, kemudian terjadi lagi, kemudian nyesel lagi, kemudian terjadi lagi … dst dst dst
mas minta izin copas ya…
yang saya butuhkan dinul islam bukan ini
assalamualaikum.
alhamdulillah ada pembahasan masalah malas.memaang sikap pemalas ini sudah menjadi tabiat dari salah satu sifat dari manusia, hanya kewajiban diri kita untuk berusaha dan berusaha bagaimana membuang jauh-jauh bahkan menghilangkan sifat pemalas ini. sebagai contoh kalau kita senantiasa menghargai waktu maka kewajiban kita untuk dapat menghargai waktu tersebut. sebagai seorang pelajar bagaimana kegiatan waktu belajarnya digunakan. jangan sampai baru belajar kalau sedang ada ujian. dalam arti kebut dalam satu malam. begitu pula jika kita seorang pekerja yang dibebani tanggungjawab dalam setiap pekerjaannya. jangan sampai kita keluar dari aturan-aturan yang sudah ditetapkan dalam instansi tersebut. niscaya akan enjoy dalam melaksanakan tugas-tugas yang telah menjadi tanggungjawabnya. buang jauh sifat malas sekarang juga hanya orang yang sukses adalah orang-orang yang senantiasa menjauhkan diri dari sifat malas tersebut. tidak inginkah dari kita menjadi orang yang berhasil hidupnya didunia dan akhirat? kuncinyaaaaa adalah? no kaslan yes mujtahid/makoto
wassalamualaikum.
aku ya pemalas ki….tapi pengen berubah…menjadi seorang yang bermanfaat…..
mohon do’a-nya ya om!
#Jirolu
Ya, mudah2an kita dijauhi dari sifat malas.