Kenalkan

Saya Yulian Purnama, seorang Web Developer, penuntut ilmu Syar'i dan seorang suami yang sedang menikmati indahnya hidup di Jogja bersama istri tercinta. Saya menyukai warna hitam dan buah apel. Dan saya percaya, harus ada ilmu dulu sebelum beramal.
E-mail: ian.doang[At]gmail.com
YM!: ian_doang

RSS Nasehat

Ilmu Pangkal Keutamaan
Ibnu Rajab Al Hambali berkata: “Ilmu adalah perantara yang akan mengantarkan pada semua keutamaan”

Tulisan Terkait

Akhowat genit

Akhowat; sebutan akrab untuk para wanita muslim. Akhowat secara bahasa arab artinya saudara perempuan. Namun sudah ma’lum (diketahui) bahwa ’saudara’ yang dimaksud disini adalah saudara seiman, sama-sama muslim. Hal ini bukan tak berdasar, karena nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain” (HR. Muslim, no. 2564). Namun memang sebagian orang menggunakan istilah akhowat
Ditulis tanggal 11 April 2007

Hak-hak Suami-Istri

Sungguh kunci keberhasilan dalam bermuamalah dengan orang lain adalah menunaikan hak orang lain atas kita. Kita memenuhi apa yang sepatut didapatkan oleh yang lain. Maka begitu pula dalam hubungan suami istri. Salah satu kunci langgengnya rumah tangga adalah sang suami menunaikan hak istrinya demikian juga sebaliknya.
Ditulis tanggal 24 May 2008

Berlebihan Dalam Meminta Mas Kawin

Yang diajarkan adalah meringankan mahar dan menyederhanakannya serta tidak melakukan persaingan, sebagai pengamalan kita kepada banyak hadits yang berkaitan dengan masalah ini, untuk mempermudah pernikahan dan untuk menjaga kesucian kehormatan muda-mudi
Ditulis tanggal 12 October 2008

Kebahagiaan Terbesarku

Renungkanlah, sungguh suatu musibah yang tak terbayangkan buruknya. Tatkala seorang suami mendapati istri yang dicintainya menggantungkan jimat, wal’iyyadzubillah, atau tatkala ia mendapati istri yang senantiasa berlaku mesra padanya pergi ke kuburan untuk ber-tabarruk (meminta berkah)
Ditulis tanggal 22 March 2008

Sepatah Kata Dari Para Ulama Untuk Palestina

Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Majelis Penelitian Ilmiah dan Fatwa Islam) di Kerajaan Saudi Arabia telah mengikuti perkembangan tragedi yang memilukan, yaitu apa telah dan tengah terjadi pada sebagian saudara kita kaum muslimin di Palestina, terutama saudara kita di Jalur Gaza
Ditulis tanggal 2 January 2009

Ukhti, Wajahmu Itu…

26 November 2007  

Wahai ukhti… Sungguh engkau, wanita muslimah, makhluk mulia yang mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dan pengaruh yang begitu besar di dalam kehidupan setiap Muslim. Engkaulah sekolah pertama di dalam membangun masyarakat yang shalih jika engkau berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Karena berpegang teguh kepada kedua sumber itu dapat menjauhkan setiap muslim laki-laki dan wanita dari kesesatan di dalam segala sesuatu. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “ Aku tinggalkan pada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh kepadanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya” [Diriwayatkan Imam Malik didalam Kitab Al-Muwaththa] Wahai ukhti… Perhatikanlah betapa engkau akan menjadi seorang ibu. Dan perhatikan pula betapa besar tanggung jawab yang harus diembanmu dan perjuangan berat yang harus ia pikul yang pada sebagiannya melebihi beban tanggung jawab yang dipikul kaum pria. Sampai-sampai Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya dan mempergaulinya dengan baik. “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kamu kembali” [Q.S. Luqman : 14] Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam seraya berkata : Ya Rasulullah, siapa manusia yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik ? Jawab Nabi: “Ibumu” Ia bertanya lagi, Lalu siapa? Jawab beliau, “Ibumu”, Ia bertanya lagi, Lalu siapa lagi? Beliau jawab: “Ayahmu” [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari] Wahai Ukhti… Maka apa lagi yang engkau tunggu? Larilah ke cermin dan pandanglah dirimu sambil menangis. Sudahkah engkau faham akan semua ini? Lihatlah rambutmu, para lelaki melihatnya. Mereka terpesona dan timbullah penyakit dalam hati mereka. Lihatlah paha dan betismu, para lelaki memandangnya. Mereka terpana dan langsung dijawab oleh farji-nya. Lihatlah lengkung pinggulmu, para lelaki menyukainya. Mereka enggan melepas pandangan mereka padanya, kecuali setelah nafsunya puas. Perhatikan dadamu, betapa para lelaki menikmati memperhatikannya. Ukhti, perhatikanlah ayat Allah: “Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” [Q.S. Al-Ahzab : 59] Wahai ukhti… Apakah engkau telah menutupi rambutmu itu, paha dan betismu itu, lengkung pinggulmu itu? Ahsan. Alhamdulillah. Tapi… wajahmu itu, ukhti. Engkau tidak menjaga wajahmu. Engkau mengobral wajahmu. Engkau tidak menundukkan wajahmu. Engkau membiarkan setiap lelaki menikmati wajahmu itu. Wajahmu itu, di tengah balutan jilbab yang anggun, sungguh berbekas di hati-hati para pria. Sekali memandang, sulit dilupakan. Wajahmu nan cerah itu, membuat niat jadi tak ikhlas lagi. Wajahmu nan manis itu, membuat khayalan-khayalan nista di benak kaum adam. Wajahmu nan molek itu, membuatkanmu terekam selalu di memori, selalu teringat, sampai-sampai tak ingat kepada Al Khaliq. Ukhti, sulit bagi para lelaki mengamalkan hadits Nabi “Wahai Ali! Janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan lain karena engkau hanyalah memiliki yang pertama dan tidak untuk yang selanjutnya.” (HR. Al Haakim dalam Al Mustadrak) Sedangkan engkau tak menjaga wajahmu. Engkau tak menundukkan wajahmu. Kaum lelaki pun menjadi tak puas hanya pandangan pertama, bahkan mereka mengikuti nafsunya untuk memandang lagi, lagi, dan lagi. Padahal Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zina kedua mata adalah memandang, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah bicara, zina tangan adalah memegang, dan zina kaki adalah melangkah.” (Muttafaq ‘alaih dengan lafazh Muslim) Wahai ukhti… Bagaimana mungkin para lelaki dapat menjaga pandangan mereka terhadapmu, sedangkan engkau menampakkan wajahmu di mana-mana. Di TV, engkau jadi pemain sinetron, engkau jadi pembawa berita, engkau jadi pembawa acara. Di kampus, engkau berorasi di hadapan para lelaki, engkau turun ke jalan raya beramai-ramai, engkau lewati kerumunan laki-laki, engkau pasang fotomu di internet. Engkau duduk ditengah kerumunan laki-laki, engkau duduk di forum bersama laki-laki, engkau bercanda-ria dan tertawa bersama mereka. Maka bagaimana para lelaki dapat denjaga pandangan darimu? Padahal jelas perintah Allah: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” [Q.S. An-Nur: 30] Wahai ukhti… Mengapa engkau sering meremehkan hal ini? Apakah engkau merasa tegar dan kuat? Apakah engkau merasa sudah cukup beriman dan bertaqwa? Apakah engkau merasa sudah cukup shalihah? Sehingga engkau merasa bisa tegar menghadapi fitnah syahwat diantara manusia? Subhanallah. Perhatikanlah Fudhail bin Iyadh rahimahullah, seorang ‘alim, seorang shalih, ahli ilmu dan ibadah, 40 tahun tak pernah ia telat untuk mendapat shaf pertama dalam shalat, namun ia mengatakan “Sungguh yang yang paling aku takutkan adalah fitnah wanita”. Sungguh beliau sangat memahami sabda Rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah aku meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi kaum pria melebihi kaum wanita” (Muttafaqun ‘alaih) Wahai ukhti… Tidakkah cukup wajahmu manismu hanya untuk suamimu tercinta saja? Suami yang telah Alloh halalkan bagimu untuk memilikimu seutuhnya. Yang ia lebih berhak atas kecantikan dan keindahan tubuhmu. Yang ia pun tak akan rela lelaki lain menikmati memandangi wajah istrinya. Cukupkanlah ia (wajahmu) untuk saudari-saudarimu sesama muslimah, yang tidak akan timbul fitnah diantara mereka karenanya. Cukupkanlah ia untuk orang-orang yang Alloh perbolehkan atasnya. Wahai ukhti… Berhijablah, tundukkanlah, sembunyilah dibalik tabir, malulah. Jangan berikan kerelaan atas sepasang mata lelaki yang memandang wajahmu. Jangan biarkan semakin mengganasnya penyakit hati mereka. Janganlah engkau menjadi salah satu dari golongan wanita penyebab fitnah diantara kaum pria. Jangan! Ukhti, jagalah wajahmu. “Yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka (para lelaki)” [Q.S. Al-ahzab : 53] [Ukhtun (arab) = saudara perempuan; Ukhti = Saudara perempuanku (sesama muslim)]

Silakan berkomentar

0 komentar »

  1. Liberalisme itu kan kalau menurut pikirannya benar ya benar. Padahal logika itu kan bisa diatur2 yang benar bisa dilogika jadi salah dan yg salah bisa dilogika menjadi benar.

    Yang sesat dibela tetapi yang berusaha meluruskan malah dimusui.

    Komentar dari achedy — 5 January 2006 @ 6:44 pm

  2. Di dunia ini, kebenaran itu relatif sehingga kebenaran bisa dipersalahkan. Akan tetapi, ia akan terus hidup karena kebenaran itu datangnya dari Allah swt..

    Komentar dari Rahmat A;i — 6 January 2006 @ 5:41 am

  3. Lantas yang benar yang mana ?

    Gw sih cuek. I’ll do it my way. My belief.
    Selama ga ganggu gw, ya gw ganggu aliran2 selain gw.

    Jadi gw tanya lagi, yang benar yang mana ?

    Toh ya ntar semua pasti satu kereta. Bahkan komunispun pasti satu kereta.

    Komentar dari andry — 9 January 2006 @ 5:44 pm

  4. Liberalisme itu tak dapat dipisahkan dari induk semangnya… Itulah sekulerisme! Hancurkan..!! Hehehe.. :)

    Komentar dari Frenky — 11 January 2006 @ 2:19 pm

  5. http://www.toilet-kecil.tk

    Dulu Yahudi, Islam, Kristen, sampai seperti sekarang ini bukannya bermula dari cap sesat dari pihak lain? Bukannya dulu, Musa, Muhammad, dan Yesus Kristus juga merintis segalanya dari bawah seperti Lia Eden dan Ulil?!

    Lalu apakah karena kita sekarang mayoritas, maka kebenaran mutlak menjadi milik yang terbanyak?

    Atau mereka terlalu buruk untuk sekedar punya ideologi sendiri?

    Bukannya mereka juga manusia? Selama mereka tidak melanggar hukum yang universal, saya rasa mereka tidak bisa kita cap sesat…

    Ingat, mereka punya pikiran. Kita juga punya pikiran kita sendiri. Setiap orang selalu memandang masalah hanya dari kacamatanya sendiri (Apa pun jenis bungkus kacamata itu)!

    So, toleran-lah. Oh ya saya ada tulisan mengenai hal ini juga di blog saya di http://www.toilet-kecil.tk yang berjudul “Autokritik Terhadap Kebenaran”…

    Salam!

    Komentar dari Lawrance — 11 December 2006 @ 7:18 pm

  6. haha.. xenopobi ya terhadap liberalisme?

    knapa musti takut? lagipula apakah liberalisme itu sebuah bentuk vandalisme?

    trus apa sih salahnya Ahmadiyah, Lia Eden, dan Islam Liberal??

    Apa karena mereka berbeda ?

    Apa selamanya segala sesuatu yang berada di luar kacamata kita selalu adalah kesalahan? Apakah kepercayaan adalah sesat ketika pengikutnya masih sedikit?

    Bukankah dulu Musa, Yesus, Muhammad, Budha, dll merintis apa yang sekarang bisa kita klaim sebagai sebuah kebenaran mutlak dari nol besar?
    Bukannya mereka2 yang saya sebut di atas dulunya juga ditindas dan disebut sesat oleh mayoritas org2 jaman itu?

    Lalu apa yang saah dengan —> Ahmadiyah, Lia Eden, dan Islam Liberal??
    Mereka punya hak untuk tidak masuk surga versi anda… mereka punya hak untuk tidak percaya tuhan anda.. dan mereka punya hak untuk percaya sesuatu…

    hargailah hak mereka…

    itulah kebebasan dan liberalisme…

    selama mereka tidak melanggar hukum universal dan hukum negara, mereka adalah orang2 bebas,…

    kalau kita bilang mereka sesat dan menyesatkan padahal hukum pidana pun tak ada yang dilanggar… kitalah yang picik…

    http://www.toilet-kecil.tk

    Komentar dari Lawrance — 17 December 2006 @ 1:05 am

Berlangganan RSS komentar TrackBack URL

Black-B theme powered by Gratizan.com