Kenalkan

Saya Yulian Purnama, seorang Web Developer, penuntut ilmu Syar'i dan seorang suami yang sedang menikmati indahnya hidup di Jogja bersama istri tercinta. Saya menyukai warna hitam dan buah apel. Dan saya percaya, harus ada ilmu dulu sebelum beramal.
E-mail: ian.doang[At]gmail.com
YM!: ian_doang

RSS Nasehat

Ilmu Pangkal Keutamaan
Ibnu Rajab Al Hambali berkata: “Ilmu adalah perantara yang akan mengantarkan pada semua keutamaan”

Tulisan Terkait

Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

Menuntut ilmu agama termasuk amal yang paling mulia, dan ia merupakan tanda dari kebaikan. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, akan dimudahkan untuk memahami ilmu agama” (HR. Bukhari-Muslim)
Ditulis tanggal 20 December 2008

Tapi, Kata Ustadz Saya…

tatkala sebagian orang beritikad baik untuk memahamkan mereka, tatkala sebagian thullabul ilmi (penuntut ilmu agama) tergerak hatinya untuk memperbaiki hal ini, mereka pun berpaling dengan sombong. Jika dibawakan kepada mereka Al Qur’an dan Hadits, mereka menolak sambil berkata “Tapi, kata ustadz saya begini dan begitu”
Ditulis tanggal 23 May 2008

Untukmu Juru Da’wah

Aktif da’wah, tapi kuliah berantakan Semangat berda’wah, tapi ingin lulus cepat Akhirnya da’wah ditinggalkan Dan barisannya pun berguguran
Ditulis tanggal 2 March 2008

Website Bermanfaat Bagi Penuntut Ilmu

Berikut ini beberapa website yang bermanfaat bagi para thullabul ilmi asy syar’i: Wikipedia bahasa Arab http://ar.wikipedia.org/, Tafsir Qur’an http://quran.al-islam.com/arb/, Lajnah Da’imah Saudi Arabia http://www.alifta.com/
Ditulis tanggal 19 November 2008

Bangkitlah Mahasiswa!

ironisnya melihat fakta di sekitar kita, dalam perkara agama, mahasiswa seolah kehilangan tajinya. Tatkala mereka di ajari pak kyai dzikir-dzikir aneh, mereka patuh saja. Tatkala pak haji mengajari cara shalat yang (ternyata) salah, mereka hanya bisa manut saja
Ditulis tanggal 27 December 2008

Urgensi Ilmu Hadits

12 November 2007  

Salah satu kelebihan Islam dari agama yang lain adalah ilmu hadits. Dalam ilmu hadits otentikasi kabar sangat diperhatikan. Tidak sembarang mendengar lalu disampaikan dan disebut sebagai perkataan Rasulullah. Setiap hadits melewati proses-proses ilmiah dan kajian teliti oleh para ahli hadits sehingga bisa diambil kesimpulan hadist tersebut bisa diterima atau tidak. Maka orang-orang yang meremehkan hadits atau tidak mau menerima hadits, atau tidak peduli tentang shahih atau dhaif-nya, maka orang ini telah menghina usaha para ahli hadits yang mencurahkan hidup mereka untuk meneliti hadits.

Kenapa disebut sebagai kelebihan ummat Islam? Karena keilmiahan dalam beragama seperti ini tidak ditemukan dalam agama lain. Misalnya jika ditanyakan apa dasarnya ummat Kristen beribadah dengan bernyanyi-nyanyi digereja? Apakah Nabi Isa ‘alaihissalam mengajarkannya? Apakah bisa diteliti secara ilmiah bahwa beliau mengajarkannya? Mereka akan menjawab “tidak”. Juga bentuk-bentuk ibadah mereka yang lain. Maka perhatikan, seorang muslim yang membuat perkara baru dalam agama tidak ubahnya seperti perilaku orang-orang non-muslim yang beragama tanpa dasar.

Dan di zaman ini kita melihat waqi’ (kenyataan) yang memprihatinkan. Dimana semakin sedikit ummat muslim yang mau mempelajari hadits. Membacanya, menghafalnya, membaca kitab-kitab para ulama hadits, bahkan ummat muslim sekarang sudah alergi menuliskan hadits. Ana menemukan beberapa website yang mengaku Islami namun mereka terkesan tidak mau banyak-banyak menuliskan hadits dengan alasan nanti kurang gaul, nanti orang awam malas membaca, nanti begini dan begitu. Malah mereka mengisi websitenya, berbicara tentang agama dengan dasar perkataan orang-orang filsafat atau hasil buah pikirnya sendiri. Wal’iyyadzubillah. Sampai-sampai Imam Syafi’i menganggap tercela orang-orang yang ‘alergi’ dengan hadits. Imam Asy-Syafii berkata, “Demi umurku, soal ilmu hadis ini termasuk tiang agama yang paling kukuh dan keyakinan yang paling teguh. Tidak digemari untuk menyiarkannya selain oleh orang-orang yang jujur lagi takwa, dan tidak dibenci untuk menyiarkannya selain oleh orang-orang munafik lagi celaka.” (Lihat Ikhtisar Mushthalahul Hadits)
Sudah dikabarkan oleh Rasulullah akan ada orang-orang yang berbicara tentang agamanya tanpa ilmu (Qur’an dan Sunnah): Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya dari setiap hamba namun Allah mencabutnya dengan mematikan orang-orang alim. Sehingga di saat Allah tidak menyisakan seorangpun dari mereka, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin mereka. Mereka ditanya merekapun berfatwa tanpa dasar ilmu sehingga sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan bila kita lihat waqi’ yang lain, sebagian besar penyimpangan-penyimpangan dalam agama dikarenakan mereka tidak mau mempelajari hadits atau tidak mau menerima hadits. Misalnya hadits tentang bid’ah, banyak diantara kaum muslimin, juru da’wah, pondok-pondok pesantren tidak mau mengajarkan hadits ini. Padahal hadist ini sangat masyhur (terkenal) dikalangan para ulama dan menghasilkan banyak kaidah-kaidah fiqhiyyah ushuliyyah (kaidah-kaidah dasar fiqih). Namun mereka tidak mau berlapang dada menerimanya dan tidak mau mengajarkannya dengan berbagai alasan, misalnya mereka beralasan bila hadits ini diajarkan akan memecah-belah ummat. Subhanallah! Hadits Rasulullah dikatakan dapat memecah-belah ummat?? Padahal Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah kholifah-kholifah yang telah mendapat petunjuk lagi cerdik. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian“. (Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmizy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15, hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll.)

Sunnah Rasulullah tidaklah memecah-belah ummat, namun sebaliknya mempersatukan ummat! Karena konsep persatuan Islam bukanlah bersatunya badan, kumpul-kumpul, senyum-senyum, sedangkan dihati mereka memiliki keyakinan berbeda-beda. Yang satu, aqidahnya benar, yang lain suka pakai jimat, yang lain tidak mengakui sifat ALLOH, yang lain suka shalat di kuburan, trus kumpul disatu majlis atau perkumpulan, inikah persatuan? Demi ALLOH bukan seperti ini. Bahkan inilah model persatuan ala Yahudi: “Permusuhan di antara mereka (Yahudi) sendiri sangat tajam. Kamu mengira mereka itu bersatu, tapi hati mereka terpecah-pecah. Itulah karena mereka kaum yang tidak mau berpikir.” (Al-Hasyr: 14)

Karena persatuan Islam yang benar adalah berpegang teguhnya setiap muslim pada Qur’an dan Sunnah Nabi, sampai-sampai Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Al Jama’ah(persatuan) itu ialah setiap yang sesuai dengan al-haqq (Qur’an dan Sunnah) walau engkau seorang diri.

Agama ini memiliki 2 sumber hukum, Qur’an dan hadits. Dan hampir semua bagian dari agama ini rinci-rinciannya dijelaskan dalam hadits. Jika kita enggan mempelajari hadits bagaimana mungkin kita bisa bergama dengan benar? Apakah kita beragama dengan bermodal pengetahuan umum saja? Shalat asal shalat, puasa asal puasa. Dan tahukah antum berapa jumlah hadits? Banyak, ribuan, atau mungkin jutaan. Bahkan jika seseorang meluangkan hidupnya HANYA untuk belajar hadits tidak akan bisa mempelajari semuanya. Dan demikianlah kehidupan orang-orang shalih terdahulu (para sahabat, tabi’in dan yang mengikuti mereka). Mereka menghabiskan waktu mereka belajar dien, mencari hadits ke berbagai penjuru dunia, tidak berhenti hingga ajal mereka tiba.

Maka ana menasehatkan kepada saudaraku seiman, agar bertaqwa kepada ALLOH dan bersemangat dalam mempelajari ilmu dien. Cukuplah kita renungkan perkataan Sufyan Ats Tsauri , “Saya tidak mengenal ilmu yang lebih utama bagi orang yang berhasrat menundukkan wajahnya di hadapan Allah selain daripada ilmu hadis. Orang-orang sangat memerlukan ilmu ini, sampai kepada soal-soal kecil sekalipun, seperti makan dan minum, memerlukan petunjuk dari al-hadits. Mempelajari ilmu hadis lebih utama daripada menjalankan salat dan puasa sunah, kerana mempelajari ilmu ini adalah fardu kifayah, sedangkan solat sunah dan puasa sunah hukumnya sunnah.

Silakan berkomentar

1 Komentar »

  1. na’am, sepakat, barakallaahu fiik

    Komentar dari titok — 12 December 2007 @ 10:32 am

Berlangganan RSS komentar TrackBack URL

Black-B theme powered by Gratizan.com